Sumber Ilustrasi: Good News from Indonesia

Silas Papare, Pahlawan dari Timur Indonesia

PACEMACE.co – Silas Papare merupakan salah satu pahlawan nasional yang berasal dari ujung timur Indonesia. Ia terkenal karena paling ditakuti oleh tentara Belanda pada saat itu. Ia juga salah satu orang yang mampu membuat Irian (nama sebelum menjadi Papua) kembali ke pelukan Ibu Pertiwi.

Silas Papare lahir di Serui, 18 Desember 1918 dan meninggal saat usianya mencapai umur 60 tahun. Silas Papare memang tidak seterkenal Frans Kaisiepo yang wajahnya terpampang di halaman muka uang kertas seribu rupiah.

Silas mengenyam pendidikan sebagai juru rawat dan mengabdi di Rumah Sakit Serui selama 3 tahun. Setelah itu, dia keluar dan bekerja di perusahaan minyak di Sorong.

Pada tahun 1944, Silas kemudian direkrut oleh Amerika untuk menjadi mata–mata dan membantu Amerika dalam upaya mengusir Jepang dari tanah Papua yang kala itu terlibat dalam Perang Dunia II. Jepang pun akhirnya kalah dan Papua kembali diambil oleh Belanda untuk dijadikan sebagai daerah jajahannya. Kondisi tersebut membuat Silas Papare kesal karena ia sendiri tidak suka dengan pemerintah Belanda saat itu.

Silas kemudian melakukan pemberontakan bersama teman-temannya. Namun pemberontakan tersebut berhasil digagalkan dan mengantarkan Silas ke penjara di Jayapura.

Di dalam penjara, Silas bertemu dengan sosok pahlawan asal Sulawesi yang dipenjara di tempat yang sama, yaitu Dr. Sam Ratulangi. Berawal dari pertemuan tersebut, tercetuslah semangat dan tekad untuk membebaskan Irian dari penjajahan Belanda dan kembali ke Republik Indonesia.

Hal yang pertama dilakukan oleh Silas adalah membentuk PKII (Partai Kemerdekaan Indonesia Irian) pada November 1946. Di dalam PKII, Silas selalu menumbuhkan dan membesarkan rasa nasionalisme kepada anggotanya.

Gerakan yang dilakukan oleh PKII juga bergerak secara underground. Akan tetapi, pergerakan dari PKII akhirnya diketahui oleh Belanda dan kembali mengantarkan Silas ke penjara diasingkan ke Biak.

Perjuangan Silas tidak berhenti di situ. Setelah diasingkan ke Biak, Silas melarikan diri menuju Yogyakarta dan membentuk beberapa kelompok perjuangan untuk membebaskan Irian dari Belanda. Misalnya, membentuk Kompi Irian 17 di markas besar angkatan darat, Front Nasional Pembebasan Irian Barat (FNPIB) dan Biro Irian yang dibantu oleh Presiden Republik Indonesia Ir. Soekarno.

Puncaknya, pada 15 Agustus 1962, Silas ditunjuk sebagai salah satu delegasi dari Indonesia untuk mewakili Irian Barat dalam New York Agreement. Silas menyatakan konfrontasi yang terjadi di Irian harus dihentikan.

Akhirnya, tepat pada 1 Mei 1963, Irian Barat pun resmi menjadi bagian Republik Indonesia. Pada saat itu juga, nama Irian Barat berganti menjadi Irian Jaya. Silas kemudian diangkat menjadi anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) mewakili Irian Jaya.

Bergabungnya Irian Jaya juga dipertegas oleh hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 yang dimenangkan oleh pihak yang pro Republik Indonesia. Kemenangan tersebut sesuai dengan cita-cita perjuangan Silas Papare dalam mewujudkan keinginan sebagian besar rakyat Irian untuk bergabung dengan Republik Indonesia.

“Jangan sanjung aku, tapi teruskanlah perjuanganku” sepenggal kalimat yang berulang kali diucapkan Silas Papare. Kalimat tersebut juga menjadi kalimat paling fenomenal dan akan selalu dikenang oleh seluruh masyarakat Indonesia. (YB)