Aplikasi Clubhouse (Foto: Getty Images)

Semakin Populer, Aplikasi Clubhouse Terancam Diblokir

Jakarta, Pacemace.co – Clubhouse merupakan media sosial yang berbasis audio dimana penggunanya dapat membuat dan bergabung dengan “room” tempat semua jenis topik dibahas. Aplikasi Clubhouse pertama kali diluncurkan pada April 2020. Popularitasnya meningkat tajam sejak Januari 2021, setelah banyak digunakan dan diperbincangkan oleh beberapa tokoh, selebritis, dan influencer.

Aplikasi Clubhouse dikembangkan oleh Alpha Exploration Co sebuah perusahaan dari Amerika Serikat. Dilansir dari KompasTekno Selasa (23/2/2021), aplikasi Clubhouse telah diunduh sebanyak 8,1 juta kali per 16 Februari 2021. Meski cukup populer, pengguna android masih harus bersabar untuk dapat mencicipi aplikasi tersebut. Pasalnya hingga saat ini, Clubhouse hanya tersedia untuk platform iOS. Aplikasi tersebut tercatat ke dalam peringkat lima aplikasi media sosial yang paling populer di AppStore, dengan rating hampir sempurna yakni 4.8 dengan total lebih dari 318 ribu penilaian.

Aplikasi ini dinilai cukup eksklusif,  tidak semua orang dapat langsung bergabung di dalamnya. Untuk dapat bergabung, pengguna tidak hanya sekedar mendaftar/membuat akun seperti pada sosial media pada umumnya, melainkan harus memiliki undangan melalui nomor telepon dari pengguna yang sebelumnya telah terdaftar. Setelah mendapatkan undangan, pengguna berhak mengundang dua orang lainnya untuk tergabung di Clubhouse.

Alih-alih “membatasi” jumlah pengguna, aplikasi Clubhouse justru menjadi pusat perhatian karena banyak orang yang penasaran dan ingin bergabung. Bahkan invitation untuk dapat bergabung kini banyak diperjualbelikan di beberapa marketplace lokal.

pace mace, papua, pacemace

Keunggulan Clubhouse

Aplikasi Clubhouse pada dasarnya mirip dengan interaksi diskusi virtual pada Zoom. Bedanya, Clubhouse tidak menggunakan fitur video melainkan hanya berbasis audio/suara. Dengan demikian aplikasi ini bersaing dengan aplikasi berbasis audio seperti Discord, Audio Space, Spoon, dan Riffr.

Salah satu keunikannya selain pengguna harus memiliki invitation untuk dapat tergabung, juga karena pengguna dapat bergabung ataupun membuat “room” untuk membahas topik tertentu. Pengguna dapat saling berinteraksi dan berkomentar melalui persetujuan dari moderator pada masing-masing ruang diskusi.

Menurut konsultan media sosial Eno Bening, Clubhouse menjadi platform yang aman bagi sejumlah pihak untuk membicarakan hal-hal apapun yang diinginkan tanpa khawatir akan disebarluaskan tanpa seizin pembicara. “Aplikasinya itu juga udah bilang, itu melanggar Community Guidelines kalo kita merekam-merekam dan di-upload ke media sosial tanpa izin,” jelas Eno dikutip dari KompasTekno (24/2).

Di Indonesia, Clubhouse turut dipopulerkan oleh beberapa tokoh seperti Mantan Menparekraf Wishnutama, Founder Tokopedia William Tanuwijaya, sutradara Joko Anwar dan Ernest Prakasa, influencer Arief Muhammad, serta beberapa tokoh dan selebritis lainnya. Terdapat berbagai topik yang dapat diikuti mulai dari diskusi ringan soal gaya hidup, membahas fenomena-fenomena tertentu, bahkan diskusi politik.

pace mace, papua, pacemace

Terancam diblokir di Indonesia

Kepopuleran Clubhouse tidak luput dari pro dan kontra dari warganet. Banyak pihak yang mempertanyakan keamanan dan kebijakan privasi dari aplikasi tersebut. Hal ini juga berkaitan dengan kabar bahwa Clubhouse yang didirikan oleh pengusaha Silicon Valley Paul Davison dan mantan pegawai Google Rohan Seth tersebut hanya dikelola oleh tim kecil yang beranggotakan sedikit orang. Sehingga disamping belum adanya kebijakan moderasi konten yang cukup jelas, kemampuan pihak pengembang dalam membatasi berbagai isu sensitif, ujaran rasisme, dan penyebaran berita hoaks banyak dipertanyakan.

Aplikasi Clubhouse juga terancam diblokir di Indonesia karena platform tersebut belum terdaftar di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Ancaman pemblokiran itu berlaku jika platform tak terdaftar hingga Mei 2021 mendatang. Dirjen Aptika Kementerian Kominfo, Semuel Abrijani Pangerapan mengatakan jika tidak melakukan pendaftaran, para Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) akan terblokir.

“Akhir bulan Mei mereka harus terdaftar. (Kalau tidak terdaftar) akan diblokir,” kata Semuel dalam live streaming Instagram URtalks, dikutip Rabu (24/2/2021). Penerapan aturan tersebut sesuai dengan Peraturan Menteri Kominfo No 5 Tahun 2020 tentang tata kelola penyelenggara sistem elektronik. (AR/Pacemace)

pace mace, papua, pacemace