Kapolda Papua, Irjen Paulus Waterpauw. (Foto: Kumparan/Ade Nurhaliza)

Polisi Ringkus Naftalis Tipigau, Pemasok Senjata Api KKB Papua

Jayapura, Pacemace.co – Polisi akhirnya berhasil meringkus Naftalis Tipigau (NT) di Jalan Sam Ratulangi depan Universitas Yapis, Jayapura. Diketahui, Naftalis merupakan pemasok senjata apil illegal untuk Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Intan Jaya, Papua.

Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw mengatakan, Naftalis diduga kuat sebagai salah seorang yang terlibat dalam berbagai transaksi pembelian senjata api dan amunisi di Papua.

Pihak kepolisan sendiri sudah beberapa kali melakukan penangkapan terhadap Naftalis Tipigau, namun ia selalu berhasil meloloskan diri.

Pada Senin (04/01/2021), tim dari kepolisian berhasil menemukan keberadaan Naftalis Tipigau sehingga bergerak cepat melakukan penangkapan.

 “Hasil penyelidikan tim NT diketahui berada di Kota Jayapura, selanjutnya anggota melakukan penangkapan terhadap NT di Jalan Sam Ratulangi depan Universitas Yapis, Jayapura,” kata Waterpauw dalam konferensi pers, Selasa (05/01/2021).

pace mace, pacemace

Anggota KNPB

Dari data kepolisian, Naftalis tercatat sebagai anggota Komite Nasional Papua Barat (KNPB) yang telah masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) sejak 25 November 2020.

Hal tersebut tertuang dalam DPO bernomor: DPO/03/III/Res.1.24/Ditreskrimun dan Laporan Polisi Nomor: LP/02-a/I/2020/Papua/Res Nabire, pada tanggal 25 Januari 2020 tentang perkara kasus transaksi amunisi.

Lebih lanjut, Waterpauw menjelaskan pihak kepolisian melakukan pengejaran dan penyergapan Naftalis sudah dimulai sejak 25 Januari 2020. Saat itu, ia sedang melakukan transaksi pembelian amunisi bersama Paulus Tebay di Kabupaten Nabire.

Paulus Tebay berhasil ditangkap beserta barang bukti berupa amunisi cal 9 mm sebanyak 20 butir dengan sejumlah uang tunai sebesar Rp 1.100.000, sedangkan Naftalis berhasil meloloskan diri dari penyergapan ini.

Tidak berhenti di situ, pada 12 November 2020, Naftalis kembali melakukan transaksi pembelian senjata api dan amunisi bersama dengan Lingkar di Kabupaten Nabire.

Ketika pihak kepolisan melakukan penangkapan, Naftalis berhasil meloloskan diri lagi. Sementara Lingkar ditangkap dan menjadi tahanan Polda Papua.

Menurut Waterpauw, Naftalis juga diduga aktif dalam melakukan berbagai propaganda tentang kekerasan Hak Asasi Manusia (HAM) di Papua melalui media sosial, dan mendukung upaya-upaya penolakan keberlanjutkan Otonomi Khusus (Otsus) Papua.

Saat penangkapan barang bukti yang diamankan pihak kepolisan yakni berupa handphone, empat flashdisk, selembar surat yang ditulis tangan dari KKB yang akan ditujukan kepada Bupati Paniyai.

Atas tindakan ini, Naftalis dijerat dalam Pasal 1 Ayat (1) Undang-Undang Darurat Nomor 12 Tahun 1951 Jo Pasal 55 KUHP dengan acaman hukuman mati atau hukuman penjara seumur hidup atau hukuman penjara sementara dengan setinggi-tingginya 20 tahun penjara. (FB/Pacemace)

pace mace, pacemace