Ilustrasi vaksin Covid-19 (Foto: Alodokter.com)

Kenali Perbedaan Vaksin AstraZeneca dan Sinovac

Jakarta, Pacemace.co – Vaksin AstraZeneca dan Sinovac merupakan dua varian vaksin Covid-19 yang saat ini digunakan di Indonesia. Vaksin Sinovac dan AstraZeneca diketahui sudah mendapat izin dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sehingga efektivitas dan keamanannya terjamin.

Perbedaan antara dua vaksin Covid-19 tersebut dapat dilihat mulai dari teknologi pengembangan vaksin, data efikasi, gejala dan efek samping, hingga pemberian dosis. Berikut merupakan penjelasan perbedaan vaksin AstraZeneca dan Sinovac seperti dirangkum Pacemace dari berbagai sumber.

pace mace, pacemace, papua

Teknologi Pembuatan

Vaksi AstraZeneca menggunakan virus adeno (Adenovirus) yang telah dimodifikasi khusus. Virus Adeno merupakan jenis virus yang tidak berbahaya. Virus tersebut berperan untuk mengirimkan protein khusus ke dalam seluruh jaringan tubuh. Protein tersebut akan menginstruksikan sel tubuh untuk memproduksi sebagian kecil dari virus Corona yang kemudian memicu respons imun.

“Pada vaksin viral vector, virus yang tidak berbahaya ini akan masuk ke dalam sel di tubuh kita lalu mengirim instruksi pembuatan sebagian kecil virus penyebab Covid-19. Bagian tersebut merupakan protein mirip paku (spike protein) yang ditemukan pada permukaan virus COVID-19,” tulis Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) dilansir dari detikcom, Kamis (10/6/21).

Sedangkan, Vaksin Sinovac memanfaatkan virus SARS-COV-2 yang telah dimatikan (inactivated) untuk memicu respons imun. Metode ini sudah terbukti manjur dan telah digunakan dalam pengembangan vaksin lain, seperti vaksin untuk penyakit flu dan vaksin polio.

Efikasi

World Health Organization (WHO) menyebutkan vaksin AstraZeneca mempunyai efikasi lebih tinggi dibanding Sinovac. Berdasarkan hasil pengujian, AstraZeneca mempunyai tingkat efikasi sebesar 63,09 persen dalam mencegah virus Covid-19. Sedangkan, untuk Sinovac memiliki tingkat efikasi sebesar 51 persen.

Efek Samping

Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) menyebut ada sekitar 9.000 kasus KIPI non-serius dan 18 kasus KIPI serius terkait penggunaan vaksin AstraZeneca hingga bulan Mei 2021. Keluhan non-serius yang ditimbulkan vaksin AstraZeneca kurang lebih sama yaitu demam, nyeri, mual, hingga lelah. Vaksin AstraZeneca juga memiliki risiko terjadinya masalah pembekuan darah. Hal ini terutama terjadi pada penerima vaksin AstraZeneca berusia muda.

Sementara, Komnas KIPI menyebut ada sekitar 10.000 laporan KIPI non-serius dan 200 KIPI serius terkait pemberian vaksin Sinovac hingga bulan Mei 2021. Kasus KIPI non-serius meliputi keluhan-keluhan ringan yang tidak membutuhkan perawatan dan bisa sembuh dengan sendirinya. Ini meliputi masalah demam, nyeri, mual, dan kelelahan usai divaksinasi.

Rentang Dosis

Perbedaan terakhir terletak pada pemberian dosis antara kedua vaksin tersebut. Vaksin AstraZeneca diberikan dalam rentang waktu 12 minggu atau sekitar tiga bulan paska vaksinasi pertama. Sedangkan, untuk Vaksin Sinovac mempunyai rentang waktu yang lebih singkat yakni diberikan dalam rentang 28 hari atau tiga minggu paska vaksinasi pertama.

Perbedaan rentang waktu ini berdasarkan hasil studi yang melihat kapan pemberian dosis vaksin memberikan hasil efikasi terbaik. (YB/Pacemace)

pace mace, pacemace, papua