Ilustrasi penangkapan. (Foto: Istockphoto.com)

Dua Aktivis Papua Ditangkap, Kuasa Hukum: Sangat Tidak Sah

Jakarta,Pacemace.co– Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap dua aktivis asal Papua atas dugaan kasus penganiyaan terhadap Rajut Patiray. Dua aktivis yang bernama Roland dan Kelvin Molana tersebut ditangkap pada Rabu (3/3/201), dan kini berstatus sebagai tersangka. 

Kuasa Hukum Aliansi Mahasiwa Papua Jabodetabek, Michael Hilman menilai penangkapan terhadap dua aktivis Papua tersebut sangat tidak sah. Sebab, pihak kepolisan tidak menunjukan surat penangkapan terhadap Roland dan Kelvin. Sementara berdasarkan aturan penangkapan, semestinya pihak kepolisian harus menunjukan surat tersebut.

“Ditangkap menggunakan pakaian preman, masuk lalu langsung dibawa ke Polda. Hari ini juga langsung dijadikan tersangka,” kata Michael dalam keterangannya dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (4/3/2021). 

Dua aktivis ini ditangkap karena diduga telah melakukan penganiayaan terhadap sesama saudara Papua yakni Rajut Patiray. Namun, dalam penangkapan tidak sesuai dengan mekanisme. Pihak kepolisian tidak terlebih dahulu melakukan pemanggilan Roland dan Kelvin sebagai saksi, melainkan langsung menjadikan keduanya sebagai tersangka. 

pace mace, pacemace, papua

Menurut Michael, tindakan yang dilakukan pihak kepolisan tersebut telah melanggar Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

Lebih lanjut, ia memaparkan kedua aktivis tersebut tidak mengenal Rajut Patiray. Setahunya, Rajut merupakan orang yang kerap menyebarkan berita atau poster di media sosial yang mengatasnamakan Aliansi Mahasiswa Papua (AMP). 

Atas perihal itu, dua aktivis ini merasa dirugikan terkait tindakan yang dilakukan Rajut Patiray. Namun, mereka tidak pernah melakukan penganiayaan terhadap korban tersebut. 

“Seakan-akan korban ini sebagai Ketua Aliansi Mahasiswa Papua ataupun sebagai Ketua Ipmapa. Nah, sehingga ada salah satu yang merasa tidak menyenangkan terhadap anggota mahasiswa Papua ini,” terang Michael.

Michael menyatakan Roland dan Kevin sudah melakukan penolakan terhadap berita acara penangkapan dan juga berita acara pemeriksaan, karena mereka menganggap mekanisme yang dilakukan tidak sah berdasarkan KUHP. 

Sementara itu, Tim Advokasi Papua Oky Wiratman Siagian menjelaskan kasus penganiayaan yang melibatkan Roland dan Kelvin berawal ketika unjuk rasa di Gedung DPR pada 27 Januari 2021 lalu. Dua aktivis ini melihat Rajut mengaku sebagai Ketua AMP saat diwawancarai oleh seseorang reporter. Melihat itu, Roland tidak terima terhadap pengakuan Rajut. 

“Karena tidak suka ada AMP tandingan, akhirnya dia labrak,” kata Wiratman. 

Wiratman menyampaikan kasus penganiayaan Roland dan Kelvin masih didalami oleh pihak kepolisian. Akan tetapi, ia menegaskan tidak ada tindakan penganiayaan yang dilakukan dua aktivis tersebut. 

Sementara ini Roland dan Kelvin masih ditahan di Rutan Polda Metro Jaya sambil menunggu hasil pemeriksaan selanjutnya. Keduanya dijerat Pasal 170 KUHP tentang Pengeroyokan dan Pasal 368 KUHP tentang Pengancaman. (FB/Pacemace)

pace mace, pacemace, papua