Bosan Saat Pandemi? Tonton Kembali 5 Film Papua Ini!

Pacemace – Menonton film ternyata punya pengaruh positif dalam mengurangi tingkat stres. Penelitian SC Noah Uhrig dari Institute for Social and Economic Research menemukan bahwa aktivitas menonton film bisa mengurangi kecemasan dan depresi serta meningkatkan rasa bahagia dalam diri seseorang.

Berikut ini 5 rekomendasi film Papua dari pacemace.co yang dapat ditonton kembali di masa pandemi

  • Denias, Senandung Di Atas Awan

Film ini menceritakan seorang anak laki-laki asal Papua bernama Denias. Film yang diangkat dari cerita nyata ini, menceritakan tentang perjuangan Denias yang tinggal di daerah pedalaman yang kurang diperhatikan kelayakannya namun Denias ingin mendapatkan pendidikan yang layak.

Setting film ini, seluruhnya diambil di Pulau Papua yang masih asli dan asri. Film ini juga memperlihatkan beberapa tradisi suku pedalaman Pulau Papua yang masih dilakukan. Contohnya upacara pemasangan koteka untuk anak laki-laki yang mulai beranjak dewasa dan pemotongan jari tangan salahsatu anggota keluarga yang sedang berduka cita.

  • Epen Cupen

Epen Cupen adalah singkatan dari “Epen kah, Cupen Toh !!” merupakan sebuah istilah yang sempat populer di papua dan mulai di jadikan sebagai cerita humor atau orang papua biasa menyebutnya cerita MOP (Mulut Orang Pintar).

Film Epen Cupen menceritakan seseorang bernama Celo yang berasal dari sebuah kampung kecil di Papua. Celo diutus oleh sang ayah untuk mencari saudara kembarnya yang hilang sejak kecil.

Menurut petunjuk dari mimpi sang ayah, Celo harus mencari saudara kembarnya di suatu tempat yang berbahaya, yakni sebuah medan perang.

Celo yang baru pertama kali menginjak kota Jayapura, bertemu dengan seorang pengusaha asal Medan yang bernama Babe. Celo pun meminta bantuan Babe untuk mencari medan perang dimana saudaranya bisa ditemukan.

  • Di Timur Matahari

Film ini berpesan mengenai secercah harapan yang sangat tinggi untuk sebuah terbitnya matahari di timur Indonesia. Dalam film ini isu utama yang diangkat adalah cerita mengenai kegelapan anak-anak di daerah Tiom, Kabupaten

Lanny Jaya, Papua, tentang pendidikan yang masih tertinggal serta jauh dari realita perdamaian.

Film Karya Ari Sihasale ini bercerita tentang sekolah di sebuah pedalaman Papua yang sangat membutuhkan guru, film ini juga menampilkan pemandangan Papua yang memukau.

Meski berlatar di salah satu daerah terpencil di pedalaman Papua, film ini menampilkan pemandangan yang begitu indah dan menawan.

pace mace, pacemace
  • Cinta Dari Wamena

Film ini berkisah tentang persahabatan tiga anak Papua, yang memilih jalan hidup masing-masing. Berawal dari impian untuk bisa bersekolah gratis di Wamena, ketiga sahabat ini dihadapkan pada gaya hidup bebas dan AIDS yang sedang mewabah.

Film ini berhasil menggambarkan realita sosial Papua yang memang perlu mendapat perhatian pemerintah. Selain dibintangi oleh artis asal Papua, aktor papan atas Indonesia, Nicholas Saputra juga turut ambil bagian dalam film ini.

Cinta dari Wamena juga mampu menghadirkan deretan gambar yang indah sekaligus melenakan akan alam sekitar Wamena.

  • Boven Digoel

Boven Digoel menceritakan kisah tentang seorang dokter yang baru saja lulus dari Fakultas kedokteran Universitas Indonesia bernama John Manangsang, ia ditugaskan di salah satu puskesmas di Tanah Merah, Kabupaten Boven Digoel, Papua.

Suatu ketika ia bersama stafnya harus melakukan operasi caesar terhadap Ibu Agustina yang sudah sembilan kali melahirkan. Sayangnya, puskesmas tersebut mempunyai keterbatasan sarana dan tenaga medis untuk melakukan tindakan.

Maka berbagai perjuangan dengan segala keterbatasan dan kesulitan pun dilakukan John dan para stafnya untuk melakukan operasi caesar terhadap Ibu Agustina. (NL/Pacemace)

pace mace, pacemace