Ilustrasi perairan di Papua. (Foto: Kabarpapua/Katharina)

BMKG Himbau Waspadai Gelombang Tinggi di Perairan Papua

Jayapura, Pacemace.co – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menghimbau kepada masyarakat untuk waspadai gelombang tinggi di sejumlah daerah.

Koordinator Analisis dan Prediksi Meteorologi Maritim, Rismanto Effendi mengatakan peringatan dini ini mulai berlaku pada 19 Januari 2021. Diperkirakan tinggi gelombang berpeluang terjadi antara 1,25 – 2,5 meter.

Menurutnya, peringatan ini hasil dari pengamatan adanya sirkulasi siklonik yang terpantu di Laut Arafuru, Samudra Hindia Selatan Jawa Timur, Samudra Pasifik utara Halmahera, dan Laut China Selatan utara Kalimantan. Selain itu, sirkulasi udara terindifikasi di Samudra Hindia barat Aceh.

Menurut Effendi, pada umumnya pola angin wilayah Indonesia bagian utara bergerak dari Barat Laut ke Timur Laut dengan kecepatan angin berkisar 5 – 25 knot. Sementara di wilayah Indonesia bagian selatan bergerak dari Barat Daya ke Barat Laut dengan kecepatan angin berkisar 5 – 25 knot.

Namun, saat ini kecepatan angin tertinggi terpantau di Selat Malaka bagian utara, Perairan Pulau Sabang, Laut Natuna, Perairan Kepulauan Anambas, sampai ke Kepulauan Natuna, Laut Natuna, Laut Jawa bagian timur, dan Selat Makassar bagian selatan.

“Kondisi ini mengakibatkan peningkatan tinggi gelombang di sekitar wilayah tersebut,” kata Effendi dalam rilisan persnya, Selasa (19/01/2021).

Maka dari itu, ia berharap kepada masyarakat untuk selalu memperhatikan resiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran.

Sementara kepada masyarakat yang tinggal di daerah pesisir yang berpeluang terjadi gelombang tinggi agar tetap selalu waspada dalam beraktivitas.

Perlu diketahui, BMKG memberikan peringatan waspada dini tidak hanya tekait tinggi gelombang khususnya untuk masyarakat di Papua dan Papua Barat. Akan tetapi, meminta juga masyarakat agar waspada terhadap sembilan pergerakan sesar atau patahan di sana.

Kepala Sub Bidang Pengumpulan dan Penyebaran Balai Besar BMKG wilayah V Jayapura, Dedy Irjayanto menyebutkan sudah terjadi 1.597 kali gempa sepanjang tahun 2020, yang berasal dari pergerakan sembilan sesar tersebut.

Adapun sembilan sesar ini meliputi, Sesar Sorong di Sorong, Sesar Ransiki di Ransiki yang terdapat di wilayah Papua Barat.

Sementara di wilayah Papua meliputi, Sesar Yapen di wilayah Serui dan Biak, Zona Patahan Waipoga, Wandamen, Sesar Sungkup Weyland di Nabire dan sekitarnya, Zona Lajur Anjak Mamberamo di wilayah Sarmi dan sekitarnya, Zona pengangkatan Cycloop di Jayapura dan sekitarnya, serta Lajur Anjak Pegunungan Tengah di wilayah Wamena dan sekitarnya.

“Warga yang bermukim di sembilan di jalur sesar ini harus meningkatkan mitigasi bencana karena termasuk kawasan rawan terjadi gempa,” ujar Dedy, Jumat (15/01/2021). (FB/Pacemace)

pace mace, pacemace