Sumber Foto: ANTARA FOTO/Lucky R

Bakar Batu: Tradisi Nenek Moyang Tidak Boleh Hilang

PACEMACE.co – Pada hakikatnya, kebudayaan adalah hasil karya manusia yang dipelajari dan diwariskan turun-temurun dari generasi ke generasi. Salah satu hasil karya yang dipelajari dan diwariskan nenek moyang di Tanah Papua khususnya pegunungan tengah adalah tradisi bakar batu.

Tradisi bakar batu oleh masyarakat Papua dilakukan sebagai bentuk rasa syukur atas berkah yang melimpah, mempererat persaudaraan, pernikahan, penyambutan tamu, upacara kematian, dan juga acara sakral lainnya.

Upacara bakar batu juga menjadi simbol kesederhanaan masyarakat Papua sebagai persamaan hak, keadilan, kebersamaan, kekompakan, kejujuran, ketulusan, dan keihklasan yang membawa perdamaian.

Saat ini, prosesi bakar batu sering diselenggarakan sebagai penyambutan tamu-tamu penting, seperti Bupati, Gubernur, serta upacara perayaan hari-hari besar.

Tradisi ini masih banyak diselenggarakan di daerah pegunungan tengah Papua seperti Lembah Baliem, Painai, Nabire, Intan Jaya, Pegunungan Bintang, hingga Yahukimo.

Tiap daerah memiliki sebutan unik untuk upacara bakar batu. Masyarakat Painai menyebut bakar batu dengan Gapila, Wamena dengan Kit Oba Isogoa, Jayawijaya dengan Barapen. Namun saat ini Barapen menjadi sebutan yang paling banyak digunakan.

Sesuai dengan namanya, bakar batu merupakan ritual membakar batu yang akan digunakan untuk memasak bersama-sama.

Bakar batu merupakan acara yang paling dinantikan oleh warga. Demi mengikuti acara ini, mereka rela menelantarkan ladang dengan tidak bekerja selama berhari-hari, dan bersedia mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk acara ini.

Menu utama dalam bakar batu adalah babi, namun terdapat juga menu lain dari hasil bumi seperti keladi, ubi, dan sayuran. Masing-masing suku atau keluarga menyerahkan babi dan hasil bumi sebagai persembahan, sebagian orang akan menyambutnya dengan tarian.

Tahap awal untuk melakukan tradisi bakar batu adalah mengumpulkan batu dan kayu bakar. Batu dan kayu bakar yang telah disusun, dibakar hingga kayu habis dan batu membara. Sembari menunggu batu panas, sebagian masyarakat menyiapkan lubang sebagai tempat memasak.

Secara bergantian, kepala suku memanah babi tepat dibagian jantung dengan anak panah yang telah dilumuri racun dari buah sehingga tetap aman jika kemudian daging dikonsumsi.

Babi yang akan dimasak, terlebih dahulu dikuliti dan diambil bagian perutnya beserta bagian lain yang tidak dikonsumsi. Lalu dipotong menjadi beberapa bagian untuk siap dimasak.

Selagi para pria mengurus batu dan babi, para perempuan menyiapkan bumbu, sayuran dan umbi-umbian yang akan turut serta dimasak dengan babi. Pembagian tugas ini secara alami juga telah dilakukan secara turun temurun.

Jika batu telah panas dan lubang telah selesai dibuat, maka masyarakat mulai memindahkan batu-batu panas menggunakan capit tradisional yang terbuat dari kayu ke dasar lubang yang telah dialasi daun pisang.

Di atas batu-batu panas, masyarakat biasanya memberi alas rumput untuk memasak daging babi, kemudian ditutup lagi dengan dedaunan dan ditambahkan batu panas lagi agar daging masak dengan sempurna.

Hingga terbentuklah beberapa lapisan batu, daging, batu, sayuran, batu, umbi-umbian yang masing-masing diberi sekat rumput atau dedaunan.

Proses memasak biasanya membutuhkan waktu 60 hingga 90 menit hingga masakan matang.

Setelah matang, rumput akan dibuka dan makanan akan dikeluarkan satu persatu untuk dihamparkan di atas rerumputan kemudian masakan akan dilumuri pasta dari buah merah serta garam dan penyedap rasa.

Semua penduduk akan duduk melingkar secara berkelompok menunggu jatah makanan. Kepala suku akan menjadi orang pertama yang menerima jatah berupa ubi dan sebongkah babi. Selanjutnya, semua akan menerima jatah yang sama.

Kemudian semua masyarakat menikmati hidangan yang telah dimasak bersama. Mereka percaya bahwa tradisi ini juga dapat menciptakan rasa kekeluargaan dan kebersamaan. (NL)